Pagi itu, Kantor Kecamatan Cibiru bukan sekadar ruang rapat biasa. Ia berubah menjadi tempat di mana waktu seperti berhenti, menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Bertemu dengan kakak-kakak angkatan 70-an adalah pengalaman yang begitu menyentuh hati. Mereka datang dengan cerita—bukan hanya cerita tentang sekolah, tapi juga tentang semangat, perjuangan, dan kenangan indah yang mereka bawa hingga hari ini. Jangan salah, walau usia sudah tidak muda lagi, tapi mereka masih berani adu badminton kata Kang Ayi.
Sebagai alumnus angkatan 2000-an, saya merasa kecil di hadapan mereka. Tapi, kehangatan mereka membangun jembatan di antara kami. Perbedaan usia yang terpaut lebih dari tiga dekade seolah hilang ketika kami tertawa bersama. Saat Kang Tatang, angkatan 73, duduk di depan keyboard organ tunggal, ruangan seketika hidup. Dengan senyuman penuh nostalgia, ia mulai memainkan lagu-lagu lama seperti lagunya Panbers. Kami semua larut dalam suasana—mulai dari yang hanya mengetuk-ngetuk meja, sampai yang tidak ragu berdiri untuk bernyanyi dan menari.
Tapi momen itu tidak berhenti di nostalgia. Lagu-lagu kekinian yang lagi viral juga dimainkan, membuat suasana semakin seru. Kakak-kakak senior yang tadinya hanya duduk kini ikut berjoget, tertawa bersama kami yang lebih muda. Tidak ada lagi sekat senioritas—hanya ada rasa hangat sebuah keluarga besar yang terhubung oleh cerita dan kebersamaan.
Lebih dari itu, ada sesuatu yang menyentuh di setiap cerita yang mereka bagikan. Bagaimana mereka dulu membangun organisasi ini dengan segala keterbatasan, tanpa teknologi canggih seperti yang kami miliki sekarang. Mereka menyebut kami “generasi penerus” dengan senyuman penuh harap, seolah menyerahkan tongkat estafet kepada kami dengan keyakinan bahwa KA8ISA akan terus tumbuh.
Di sela kehangatan, kami tetap fokus pada langkah ke depan. Kabid Bersatu sepakat memulai pendataan anggota secara menyeluruh, menggandeng koordinator angkatan agar komunikasi lintas generasi semakin terjalin erat. Kabid Mampu juga bertekad untuk menghidupkan jaringan ekosistem UMKM anggota, memberikan ruang bagi alumni yang memiliki usaha agar saling mendukung. Sementara itu, Kabid Bantu merencanakan program santunan untuk anggota yang membutuhkan, sekaligus membuka peluang kontribusi seluruh anggota melalui iuran resmi per angkatan.
Acara ini ditutup dengan menyanyikan lagu Kemesraan. Ketika suara kami menyatu dalam lagu itu, saya merasakan betul bahwa KA8ISA bukan sekadar organisasi—ia adalah rumah. Rumah yang selalu membuka pintunya untuk kami pulang, membawa cerita baru, dan meninggalkan jejak yang bermakna.
Alhamdulillah, rapat ini bukan hanya lancar, tapi juga membekas di hati. Saya pulang dengan rasa rindu yang terobati, tapi juga membawa harapan besar bahwa kebersamaan ini akan terus hidup dan menginspirasi. Sampai jumpa lagi di pertemuan berikutnya, di mana cerita baru akan selalu dimulai.

